Analisa Desain Konstruksi Tanggul Laut untuk Meminimalisir Hilangnya Garis Pantai Pasca Tsunami Tahun 2018 di Teluk Palu

Main Article Content

Bondan Fiqi

Abstract

Tahun 2018 cukup berat dirasakan oleh warga pesisir Teluk Palu, dimana bencana alam seperti gempa bumi, likuifaksi dan tsunami harus terjadi disaat bersamaan dan pada waktu senja hari. Ketika hampir semua masyarakat berada di rumah setelah seharian beraktifitas. Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa yang sangat banyak, dan begitu juga kerusakan infrastruktur yang tidak sedikit. Termasuk munculnya problem baru yang massif dan akan terus berjalan, berupa terkikisnya garis pantai pada wilayah teluk Palu yang meningkat signifikan pasca kejadian tersebut. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat harus bangkit untuk membangun kembali infrastruktur sebagai langkah pemulihan, termasuk perlu dibuat sebuah tanggul laut untuk meminimalisir terkikisnya garis pantai pada wilayah teluk Palu. Tanggul laut yang dibangun harus memenuhi kriteria sains, supaya tidak terjadi gagal teknologi yang menyebabkan kerugian negara. Setelah dilakukan pengkajian terhadap beberapa referensi terkait dan simulasi menggunakan aplikasi delft 3D, maka disarankan bahwa  pada kurun waktu 100 tahun terakhir prediksi kecepatan agin adalah kecepatan angin 10,35 m/s di area Teluk Palu, maka tinggi tide mencapai 1,45 m; nilai maksimum storm surge sekitar 0,086 m; kondisi wave antara 0,90 hingga 1,25 m; dan sea level rise rata – rata per tahun adalah 0,075 cm. Sehingga apabila dikalkulasi akan di dapat saran pembangunan tanggul laut dengan ketinggian mencapai 2,5  – 2,861 m.

            Kata kunci: tembok laut, pemodelan, palu, gelombang, tinggi air laut

Article Details

Section
Articles