Aplikasi Biofungisida Berbahan Aktif Corynebacterium sp. Ramah Lingkungan dalam Pengendalian Penyakit Karat Putih pada Krisan

Wakiah Nuryani, Evi Silvia, Hanudin Hanudin, Kurniawan Budiarto

Abstract


Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan dampak negatif dari intensifikasi kegiatan budidaya dan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses produksi tanaman merupakan isu strategis yang berkembang saat ini.  Penggunaan agroinput kimiawi seperti pestisida dan pupuk sintetik memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitar, termasuk kualitas ekosistem dan kesehatan manusia, juga terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Penggunaan beberapa agensia hayati sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman diharapkan mampu mengurangi bahkan mensubstitusi total penggunaan bahan kimia sintetis.  Penggunaan biofungisida berbahan aktif Corynebacterium yang diformulasi dengan penambahan bakteri perakaran pemicu pertumbuhan tanaman (PGPR) ditujukan tidak hanya untuk mengendalikan penyakit karat sekaligus meningkatkan pertumbuhan dan hasil bunga pada krisan sebagai elemen budidaya yang ramah lingkungan.  Penelitian bertujuan untuk mendapatkan komposisi dan teknik aplikasi biofungisida berbahan aktif Corynebacterium sp. yang diformulasi dengan PGPR terbaik dalam mengendalikan penyakit karat putih serta dapat meningkatkan hasil panen bunga krisan layak jual.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari hingga Desember 2014 di dalam laboratorium dan rumah plastik Balithi dengan menggunakan RAK dengan 4 ulangan.  Hasil terbaik yang diperoleh kemudian diaplikasikan di lahan petani untuk verifikasi lebih lanjut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan biofungisida berbahan aktif Corynebacterium sp. yang diformulasikan dengan PGPR 0.3% yang diaplikasikan melalui perendaman akar dan diikuti dengan penyemprotan dengan interval 7 hari memberikan penekanan terhadap penyakit sebesar 3.55%, perbaikan kualitas pertumbuhan dan persentase peningkatan bunga layak jual sebesar 4.92% dibandingkan dengan aplikasi pestisida sintetik yang umum digunakan petani.


Full Text:

PDF

References


Nuryani, W. dan E. S. Yusuf. (2007). Pengaruh Pseudomonas fluorescens Dan Trichoderma harzianum Terhadap Rhizoctonia sp. Pada Media Tumbuh Tanaman Pot, Jurnal Hortikultura (Edisi Khusus), 2: 202–207.

Ellis, D. (2007). New Pest Concern in New England. Chrysanthemum White Rust. Integrated Pest Managemen, Univ. Connecticut. http://www.hort.uconn.edu/Ipm/general/biocontrl/chryswhiterust.htm. (viewed 17 Mei 2010).

Djanika, I. (1993). Pengaruh Penghalang Fisik Terhadap Intensitas Serangan Penyakit Karat Pada Tanaman Krisan, Buletin Penelitian Tanaman Hias 1(1): 67-72.

Meidiantie, S., A. Muanis Nur, A. Raharjo. (2009). Biofungisida Untuk Mengendalikan Penyakit Tanaman, (1st ed.), Agromedia Pustaka Utama, 25 – 36p.

Hanudin, W. Nuryani, E. S. Yusuf, B. Marwoto. (2010), Formulasi Biopestisida Berbahan Aktif Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, Dan Corynebacterium sp. Non Patogenik Untuk Mengendalikan Penyakit Karat Putih Pada Krisan, Jurnal Hortikultura 20 (3): 247-261.

Sutater, T. (1992). Dosis Pupuk N Dan K Pada Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium Ram), Jurnal Hortikultura 2(2): 1-4.

Setiawan, N. (2013). Uji t Perbedaan Rata‐rata Dua Kelompok Berpasangan (dependent) Parametrik. http://statistikceria.blogspot.co.id/2013/12/Pengujian-Perbedaan-Rata-rata-Dua-kelompok-berpasangan-dependent-parametrik.html. (viewed 4 Januari 2017).

Suhardi. (2009). Sumber Inokulum, Respons Varietas, Dan Efektivitas Fungisida Terhadap Penyakit Karat Putih Pada Tanaman Krisan, Jurnal Hortikultura 19 (2): 207 – 209.

Rahardjo, I. B., dan Suhardi. (2008). Insidensi Dan Intensitas Serangan Penyakit Karat Putih Pada Beberapa Klon Krisan, Jurnal Hortikultura 18 (3) : 312 – 318.

Simanungkalit, R. D. M., A. S. Didi, S. Rasti, dan H. Wiwik. (2006). Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, 45 p.

Firmansyah, I., Liferdi, N. Khaririyatun, dan M. P. Yufdy. (2015). Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah Dengan Aplikasi Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati Pada Tanah Alluvial, Jurnal Hortikultura 25 (2):133 – 141.

Dewi, I.R. (2008). Peran Dan Fungsi Fitohormon Bagi Pertumbuhan Tanaman. Skripsi Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran Bandung, 56p.

Silvia, I. (2009). Pengaruh IBA Dan NAA Terhadap Stek Aglaonema var. Donna Carmen Dengan Perendaman. Skipsi Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 72p.

Hoesen, D., S. Hazar, Priyono, H. Sumarnie. (2000). Peran Zat Pengatur Tumbuh IBA, NAA, Dan IAA Pada Perbanyakan Amarilis Merah (Amarylidaceae). Prosiding Seminar Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Lab. Treub. Balitbang Botani Puslitbang Biologi, LIPI Bogor. 39 – 51.

Zandvoort, R., C. A. M. Groenewegen, and J. C. Zadoks. (1968). On the Incubation Period of Puccinia horiana, Netherlands Journal of Plant Pathology 74 (4): 128 – 130.

Kuta, F. A., L. Nimzing, and P. Y. Orka’a. (2009). Screening of Bacillus Species with Potential of Antibiotics Production, Applied Medicinal Informatics 24 (1-2): 42 – 46.

Murphy, J.F., G.W. Zehnder, D.J. Schuster, E.J. Sikora, J.E. Polston, and J.W. Klopper. (2000). Plant Growth Promoting Rhizocbacterial Mediated Protection In Tomato Against Tomato Motle Virus, Plant Disease 84 : 779 - 784.

Taufiq, M., A. Rahman, A. Wahab, dan S.H. Hidayat. (2010). Mekanisme Ketahanan Terinduksi Oleh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Pada Tanaman Cabai Terinfeksi Cucumber Mozaic Virus (CMV), Jurnal Hortikultura 20 (3): 274 – 283.

Velho, R. V., L. F. Medina, J. Segalin, and A. Brandelli. (2011). Production of Lipopeptides Among Bacillus Strains Showing Growth Inhibition of Phytopathogenic Fungi, Folia Microbiologica 56 (4): 297 - 303.

Beatty, P.H. and E.J. Susan. (2002). Paenibacillus polymyxa Produces Fusaricidin-type Antifungal Antibiotics Active Against Leptosphaeria maculans, The Causative Agent of Blackleg Disease of Canola, Canadian Journal of Microbiology 48 :159 - 169.

Gurusidaiah, S., D. M. Weller, A. Sarkar, and R. J. Cook. (1986). Characterization of Antibiotic Produced by Strain of Pseudonmonas fluorenscens Inhibitory To Gaemannomyces gramminis var. tritici And Phytium spp, Antimicrobial Agent and Chemotherapy 29: 488 – 495.

Hanudin, W. Nuryani, dan K. Budiarto. (2008). Effectiveness of Bacillus subtilis And Pseudomonas fluorescens In Liquid Formulation to Control Important Diseases on Chrysanthemum and Chinese Cabbage, Agrivita 30 (3): 255 – 262.

Djatnika, I. (2012). Seleksi Bakteri Antagonis Untuk Pengendalian Penyakit Layu Fusarium Pada Phalaenopsis, Jurnal Hortikultura 22 (3): 276 – 284.

Lee, K. J., S. Kamala-Kanan, H. S. Sub, C. K. Seong, and G. W. Lee. (2008). Biological Control of Phytophthora bight In Red Pepper (Capsicum annuum L.) Using Bacillus subtilis. World Journal of Microbiology and Biotechnology 24 : 1139 – 1145.

Damayanti, T. A., and T. Katerina. (2008). Protection Of Hot Pepper Against Multiple Infection Of Viruses By Utilizing Root Colonizing Bacteria, Journal of International Society Southeast Asian Agricultural Science 14 : 92 – 100.

Kholida, F. T., dan E. Zulaika. (2015). Potensi Azotobacter Sebagai Penghasil Hormon IAA (Indole-3-Acetic Acid). Jurnal Sains dan Seni ITS 4(1): 2337 – 3520.

Mukamto, U. Syazwani, W. Mahalina, A. Syauqi, L. Istiqfaroh, dan G. Trimulyono. (2015). Isolasi dan Karakterisasi Bacillus sp. Pelarut Fosfat Dari Rhizosfer Tanaman Leguminosae, Sains dan Matematika, 3(2): 62 – 68.

Pranoto, E., dan M. R. Setiawati. (2014). Pengujian Kapasitas Penambatan Nitrogen Azotobacter sp Indigen Dan Eksogen Secara In-vitro Pada Tanah Andisol Areal Pertanaman Teh. Jurnal Penelitian Teh dan Kina 17(1): 31 – 38.

Danapriaatna, N., T. Sumarmata, dan I. Z. Nursinah. (2014). Peningkatan Ketersediaan N Dan Hasil Padi Melalui Aplikasi Pupuk Hayati Penambat N (Azotobacter sp. Dan Azospirillum sp.) Dan Kompos Jerami Padi, Jurnal Agrotropika 1 (1): 1 – 10.




DOI: http://dx.doi.org/10.29122/jtl.v19i1.1905

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.