Status Kualitas Air Pesisir Bukit Ameh di Kawasan Ekonomi Khusus Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan

Yudhi Soetrisno Garno

Abstract


ABSTRACT

The Bukit Ameh (Mandeh) area of Pesisir Selatan Regency, West Sumatra, has a potentially unique landscape as a tourist attraction. Therefore, this area will be developed into a special economic area for tourism. However, for doing so, there will be various activities performed there that could affect the environmental conditions there. Accordingly, this study was carried out to determine the quality status of the Bukit Ameh coastal waters to anticipate the impact of various special economic areas for tourism development activities in the future. This study's results indicate that the nutrient content of Bukit Ameh waters has exceeded the Quality Standards. The coastal waters of Bukit Ameh, inhabited by 23 species of phytoplankton from 4 classes with abundance ranging from 795,183 to 3,909,750 ind/m3. Phytoplankton community is dominated by Trichodesmium sp. with the highest population of 2,162,994 ind/m3 or 73.2 percent of total abundance. In addition to Trichodesmium sp., on the coast of Bukit Ameh also found Ceratium sp., Dinophysis sp., and Peridinium sp., which can trigger the Harmful Algal Bloom which is poisonous and can kill other organisms that eat it. Comparing dissolved nutrients and abundance of phytoplankton in several coastal does not show a positive correlation, in the sense that the more fertile the waters, the higher the abundance of phytoplankton.

Keywords: water quality, coastal, abundance, phytoplankton

ABSTRAK

Kawasan Bukit Ameh (Mandeh) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat,  merupakan salah satu kawasan pariwisata yang memiliki keunikan bentang alam sebagai daya tarik wisata, sehingga kawasan ini akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Terkait hal ini, akan ada kegiatan pengembangan ekonomi yang memiliki potensi mempengaruhi kondisi lingkungan di sana. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi dampak dari berbagai kegiatan di KEK pariwisata di masa datang, maka dilaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui status kualitas perairan pesisir Bukit Ameh.  Hasil penelitian ini mengisaratkan bahwa kandungan nutrien  perairan Bukit Ameh telah melampaui Baku Mutu. Perairan pesisir Bukit Ameh, dihuni oleh 23 jenis fitopankton dari 4 kelas dengan kelimpahan berkisar antara 795.183-3.909.750 ind/m3. Komunitas fitoplankton didominasi oleh Trichodesmium sp. dengan populasi tertinggi 2.162.994 ind/m3 atau 73,2% kelimpahan total.  Selain Trichodesmium sp., di pesisir Bukit Ameh  juga ditemukan juga Ceratium sp., Dinophysis sp. dan  Peridinium sp. yang dapat memicu terjadinya Harmful Algal Bloom yang beracun dan dapat membunuh organisme lain yang memangsanya. Pembandingan nutrien terlarut dan kelimpahan fitoplankton di beberapa perairan pesisir tidak menunjukkan adanya korelasi positif, dalam arti bahwa makin subur peralihan makin tinggi kelimpahan fitoplankton.

Kata kunci: kualitas perairan, pesisir,  kelimpahan, fitoplankton


Full Text:

PDF

References


Anonim. (2012). Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Tahun 2010-2025. Lembaran Negara RI Tahun 2011, No. 125. Sekretariat Negara. Jakarta.

Anonim. (2014). Perda Propinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat.

Anonim. (2016). Surat Bupati Pesisir Selatan nomor 050/289.VI/Bappeda-PS/2016 tertanggal 24 Juni 2016, Kawasan Bukit Emas di Nagari Carocok Anau Ampang Pulai di Kecamatan Koto XI Tarusan yang merupakan bagian dari Kawasan Mandeh diusulkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dengan luasan 400 ha.

Anonim. (2017). Feasibility Study Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Mandeh. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Barat.

Garno, Y.S. (2004). Bomanipulasi, Paradigma Baru Dalam Pengendalian Limbah Organik Budidaya Perikanan Di Waduk Dan Tambak Orasi Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Manajemen Kualitas Perairan Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Jakarta, 28 April 2004.

Jones-Lee, A., & Lee, G.F. (2005). Eutrophication (Excessive Fertilization). Water Encyclopedia: Surface and Agricultural Water. Wiley, Hoboken, NJ. p 107-114.

Gypens, N., Borges, A.V., & Lancelot, C. (2009). Effect of eutrophication on air–sea CO2 fluxes in the coastal Southern North Sea: a model study of the past 50 years. Global Change Biology, 15: 1040–1056.

Howarth, R., Anderson, D., Cloern,J., Elfring,C., Hopkinson,C., Lapointe,B., Malone, T., Marcus, N., McGlathery, K., Sharpley, A., & .Walker. (2000). Nutrient pollution of coastal rivers, bays, and seas. Issue in Ecology No. 7, Ecological Soc. of America, Washington, DC.

Schlinder, D.W. (1971). Carbon, Nitrogen an phosphorus, and the euthrophication of Freshwater Lakes. J. Phycol. 7:321-329.

Antia, J. K., C. D. McAllister, T.R. Parsons, K. Stephen, & J.D.H. Strickland. (1963). Further measurements of Primary Productions using a Large-Volume plastic sphere., Limnol. Ocenogr., 8: 166-183.

Ryther, J. H. & Dustan, W. M. (1971). Nitrogen, Phosphorus and Eutrophication in coastal Marine environment. Science 171:1008-1013.

Thomas, W.H. (1969). Phytoplankton zat harat enrichment experiment off Baja California and in the equatorial Pacific ocean. J.Fish. Resh. BD. Can., 26:1101-1112.

McCarthy, J. J. (1980). Nitrogen. Pp.191-234 in Morris (ed.), The Physiological. Ecology of Phytoplankton. Univ. California.

Corner, E.D.S., & Davies A. G. (1971). Plankton as A Factor in the Nitrogen and Phosphorus

Parsons, T.R., Takahashi, M., & Hargrave, B. (1984). Biological Oceanographic Processes. Pergamon Press. Oxford-New York-Toromto- Sydney-Paris- Frankfurt

Hendersen B. & H.R. Markland. (1987). Decaying Lakes-The Origins and Control of Cultural Eutrofication. John & Willey Sons Ltd. New York Chichester, Brisbane, Toronto, Singapura.. Theor. Angew. Limnol. Verh., 20, 68-74

Goldman, C.R & Horne, A. J. (1983). Limnology. International Student Edition. McGraw-Hill, Inc. Tokyo. pp: 464

Tilman, D. (1977). Resource competition between planktonic algae: an Experimental theoretical approach. Ecology, 58:338-348.,

Smith, V.H., (1982). The nitrogen and phosphorus dependence of algal biomass lakes: an empirical and theoritical analysis. Limnol. Oceanogr., 27: 1101-1112.

Frost, B.W. (1980). "Grazing" In I. Morris (ed.): The physiological ecology of phytoplankton. Blackwell Scientific, Oxford.

James M. R, & Forsynth D. J. (1990). "Zooplankton-phytoplankton interaction in a eutrophic lake. J. Plankton Res., 12, 455-472.

Garno, Y. S. (1993). Pengaruh grazing zooplankton terhadap struktur komunitas fitoplankton. Lokakarya Tekn. Konservasi Fauna. Dir. TPLH-BPPT., 159-174.

APHA. (1985). Standart Method for the examination of water and waste water, 16th Ed. Washinton D.C.

Yamaji, I. (1974). Ilustration the Marine Plankton of Japan. Osaka, Hoikusa Publishing, Japan.

Erlania, I.N. Radiarta & Rasidi. (2014). Indeks Biologis Fitoplankton Sebagai Indikator Kondisi Perairan Pada Lokasi Budidaya Laut di Teluk Ambon, Maluku. Balitbang perikanan. KKP, hal: 447-454.

Rasidi, Radiarta, I.N. & Erlania. (2014). Hubungan Komunitas Plankton Dengan Kondisi Kualitas Perairan Di Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Balitbang peikanan. KKP, hal: 521-527.

Boyd, E. C. (1990) Water Quality in Ponds for Aquaculture. Biirmingham Publishing Co. Birmingham, 482 pp.

Putra, I.B.E, Nawir, M. & Deswati. (2014). Kelimpahan Plankton Di Kawasan Budidaya Perairan Teluk Carocok Tarusan Kecamatan Koto Xi Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta.

Anonim. (2004). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51. 2004. Baku Mutu Air Laut.

Garno, Y.S & Komarawidjaja, W. (2016). Kesuburan dan Keragaman Plankton di Perairan Pesisir Barat Kabupaten Sorong.

Garno, Y.S. & .Komarawidjaja, W. (2015). Status Kualitas Perairan Selat Matak Kabupaten Kepulauan Anambas. J. Tek. Ling. PTL-BPPT.15(2):65-70).

Garno, Y.S (2000). Status kualitas Perairan Pesisir Kabil -Batam. . Prosisding Pengelolaan Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan, DTL-BPP Teknologi, 251-260.

Purmaningtyas, Mujiyanto,S.E. & Riswanto. (2019). Distribusi dan Kelimpahan Fitoplankton di Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Akuatika Indonesia 4(1):24-30.

Merina, G., Zakaria, & I.J. Chairul. (2016). Produktivitas Primer Fitoplankton Dan Analisis Fisika Kimia Di Perairan Laut Pesisir Barat Sumatera Barat, Jurnal Metamorfosa III (2): 112-119.

Fitra, F., Zakaria, I.J. Syamsuardi. (2013). Produktivitas Primer Fitoplankton Di Teluk Bungus. Jurnal Biologika Vol. 2, No. 1, 59-66.

Garno, Y.S. (2001). Kualitas Air dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Pesisir Pulau Kelapa Kepulauan Seribu.Prosiding Marintek-Bppt: 218-231.

Amin, M. (2011). Studi Kadar Nitrat Dan Fospat Di Perairan Pesisir Kota Tarakan, Kalimantan Utara’. Jurnal Harpodon Borneo.8.(1): 27-34.

Efrizal, T. (2016). Hubungan Beberapa Parameter Kualitas Air Dengan Kelimpahan Fitoplankton Di Perairan Pulau Penyengat Kota Tanjung Pinang. Riau

Wiadnyana, N.N.; A. Sediadi; T. Sidabutar & S.A. Yusuf. (1994). Bloom of the dinoflagellate in kao bay, north moluccas. Paper presented in ioc-westpac .

Adnan, Q. (1993). PSP and red tide status in Indonesia. In: Toxic Phytoplankton Blooms in the Sea ( T.J. Maeda. and Y. Shimizu, Eds.). Elsevier Science Publisher B.V., Amsterdam: 199-202.

Praseno D.P & Adnan Q. (1996). Phyto-plankton Community and Abundance In Some Estuaries of The Northern Coast of Java. Dir. TPLH-BPPT, Jakarta, 17-24

Effendi M. (1998). Penelitian Kepadatan Biota Perairan antara Pulau Tarakan dan P. Bunyu, Seminar Akuakultur secara Terpadu. Dir. TPLH-BPPT, Jakarta, 351-363.

Sidabutar, T. (1996). Kondisi Plankton dan Hidrologi di Perairan Seram Barat dan Sekitarnya pada Musim Timur, Seminar Maritim Selonesia. BPP Teknologi - Wanhankamnas, Makkasar, 283-297.




DOI: https://doi.org/10.29122/jtl.v21i2.4187

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.