Upaya Mitigasi Banjir di Sub DAS Samin Melalui Pengembangan Masyarakat Tangguh Bencana

Wiwin Budiarti, Evi Gravitiani, Mujiyo Mujiyo

Abstract


Bencana banjir akibat luapan Sungai Samin menjadi salah satu permasalahan utama di Kabupaten Sukoharjo. Perlu pengendalian bencana yang lebih menekankan pada pengurangan resiko (mitigasi). Masyarakat sebagai pihak pertama yang berhadapan dengan resiko bencana sehingga mitigasi lebih efektif dengan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian bertujuan untuk memetakan potensi tingkat kerawanan banjir dan menganalisis upaya mitigasi bencana banjir melalui program pengembangan masyarakat tangguh bencana sebagai bentuk partisipasi masyarakat di Sub DAS Samin. Metode menggunakan teknologi sistem informasi geografis (SIG) dengan pendekatan map-overlay dan scoring beberapa peta parameter banjir (kemiringan lereng, jenis tanah, kerapatan drainase, curah hujan dan penggunaan lahan) dan survey wawancara untuk mengetahui upaya mitigasi yang diterapkan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir wilayah Sub DAS Samin sebagian besar termasuk tingkat rawan – sangat rawan yaitu seluas 53,826,73Ha (84,77%). Daerah yang termasuk kategori rawan – sangat rawan berada di wilayah hilir dan tengah meliputi Kecamatan Mojolaban, Polokarto, Bendosari, Sukoharjo, Karanganyar, Jumapolo, Jaten, Karanganyar, dan Kebakkramat. Berdasarkan hasil analisis spasial dan wawancara bahwa Desa Tegalmade yang terletak di Kecamatan Mojolaban merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana banjir tinggi. Hasil peta kerawanan bencana banjir dapat diintegrasikan sebagai sebuah rekomendasi dalam perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana. Upaya mitigasi bencana banjir yang diterapkan yaitu dengan pengembangan masyarakat tangguh bencana di Desa Tegalmade. Pengembangan masyarakat tangguh bencana dilakukan melalui penyiapan infrastruktur berupa perbaikan tanggul secara permanen, perbaikan lingkungan berupa penanaman tanaman konservasi “Bambu” di sempadan sungai, penyiapan kelembagaan dan kesiapsiagaan baik pemerintah terkait maupun masyarakat rawan bencana, sehingga potensi kerawanan banjir dan dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

 

Kata kunci : kerawanan banjir, mitigasi, sig, masyarakat tangguh bencana

 

Bencana banjir akibat luapan Sungai Samin menjadi salah satu permasalahan utama di Kabupaten Sukoharjo. Perlu pengendalian bencana yang lebih menekankan pada pengurangan resiko (mitigasi). Masyarakat sebagai pihak pertama yang berhadapan dengan resiko bencana sehingga mitigasi lebih efektif dengan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian bertujuan untuk memetakan potensi tingkat kerawanan banjir dan menganalisis upaya mitigasi bencana banjir melalui program pengembangan masyarakat tangguh bencana sebagai bentuk partisipasi masyarakat di Sub DAS Samin. Metode menggunakan teknologi sistem informasi geografis (SIG) dengan pendekatan map-overlay dan scoring beberapa peta parameter banjir (kemiringan lereng, jenis tanah, kerapatan drainase, curah hujan dan penggunaan lahan) dan survey wawancara untuk mengetahui upaya mitigasi yang diterapkan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir wilayah Sub DAS Samin sebagian besar termasuk tingkat rawan – sangat rawan yaitu seluas 53,826,73Ha (84,77%). Daerah yang termasuk kategori rawan – sangat rawan berada di wilayah hilir dan tengah meliputi Kecamatan Mojolaban, Polokarto, Bendosari, Sukoharjo, Karanganyar, Jumapolo, Jaten, Karanganyar, dan Kebakkramat. Berdasarkan hasil analisis spasial dan wawancara bahwa Desa Tegalmade yang terletak di Kecamatan Mojolaban merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana banjir tinggi. Hasil peta kerawanan bencana banjir dapat diintegrasikan sebagai sebuah rekomendasi dalam perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana. Upaya mitigasi bencana banjir yang diterapkan yaitu dengan pengembangan masyarakat tangguh bencana di Desa Tegalmade. Pengembangan masyarakat tangguh bencana dilakukan melalui penyiapan infrastruktur berupa perbaikan tanggul secara permanen, perbaikan lingkungan berupa penanaman tanaman konservasi “Bambu” di sempadan sungai, penyiapan kelembagaan dan kesiapsiagaan baik pemerintah terkait maupun masyarakat rawan bencana, sehingga potensi kerawanan banjir dan dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir.[L1] [W2] 

 

Kata kunci : kerawanan banjir, mitigasi, sig, masyarakat tangguh bencana

 [L1]Abstrak ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia (dengan huruf tegak) dan bahasa Inggris (dengan

huruf miring) dengan jumlah kata maksimal 250 kata. Abstrak harus informatif dan menyatakan latar

belakang masalah, tujuan dari penelitian, metode penelitian (pemilihan objek yang ditelti, metode

pengamatan, dan analisis), meringkaskan isi dan kesimpulan dari intisari naskah. (Arial 10pt, dan justify)

 [W2]done


Full Text:

PDF

References


Undang-undang Republik Indonesia nomor 4 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Paimin, Sukresno, & Pramono, I.B., (2009), Teknik Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor, Tropenbos International Indonesia Programme.

Maridi, Agustina, P. & Sapura, A., (2014), Vegetation Analysis of Samin Watershed, Central Java, as Water and Soil Conservation Efforts, Biodiversitas Journal, 15 (2), 215-223.

Asdak, C., (2010), Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Cetakan ke 5, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nugroho, S.P., (2015), Relevansi Meningkatnya Bencana Hidrometeorologi terkait Kerusakan DAS di Indonesia, Prosiding Seminar Nasional Restorasi DAS: Mencari Keterpaduan di Tengah Isu Perubahan Iklim, Surakarta: BPTKPDAS.

Puturuhu, F., (2015), Mitigasi Bencana dan Pengeinderaan Jauh, Cetakan ke 1, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Suherlan, E., (2001), Zonasi Tingkat Kerentanan Banjir Kabupaten Bandung, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Kingma, N., (1991), Natural Hazard: GeomorphologicalAspect of Flood Hazard, The Netherlands: ITC.

Anna, Alif N., Suharjo, & Priyana, Y., (2015), Kajian Biofisik Lahan untuk Penilaian Kerentanan Banjir di DAS Bengawan Solo Hulu, University Research Colloquium 2015 p:9-17.

Mubekti & Alhasanah, F., (2008), Mitigasi Daerah awan Tanah Longsor Menggunakan Teknik Permodelan SIG, Jurnal Teknologi Lingkungan BPPT, 9 (2): 118-126.

Matondang, J.P., Kahar, S., & Sasmito, B., (2013), Analisis Zona Daerah Rentan Banjir Dengan Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kota Kendal dan Sekitarnya), Jurnal Geodesi UNDIP, 2 (2): 103-113.

Aji, M.D., Sudarsono, B., & Sasmito, B., (2014), Identifikasi Zona Rawan Banjir Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Sub DAS Dengkeng), Jurnal Geodesi UNDIP, 3(1): 36-50.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor 32 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukoharjo, (2015), Penyusunan Dokumen Risiko Bencana Kabupaten Sukoharjo 2015. Laporan Akhir, Asca Amoghasida Engineering Consultant.

Nugroho, S.P., & Prayogo, T. (2008), Penerapan SIG untuk Penyusunan dan Analisis Lahan Kritis pada Satuan Wilayah Pengelolaan DAS Agam Kuantan Provinsi Sumatera Barat, Jurnal Teknologi Lingkungan BPPT, 9(2): 130-140.

Maryono, A., (2005), Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Farid, M., (2010), Banjir: Proses, Karakteristik dan Upaya Mengatasinya, Inovasi Online, Vol. 18/XXII/November 2010.

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, (2011), Potensi Bambu Sebagai Tanaman Konservasi Daerah Aliran Sungai, Retrieved July 6, 2017, Available from http://balittri.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/berita-lain/77-potensi-bambu-sebagai-tanaman-konservasi-daerah-aliran-sungai, (viewed Juni 22, 2017).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal ini Diindeks oleh :