ANALISIS PERHITUNGAN MODUL JEMBATAN GELAGAR I DAN GELAGAR BOX BAJA SEBAGAI FUNGSI JEMBATAN JALAN RAYA

Authors

  • Cahya Witriyatna PTSPT - BPPT
  • Dwi Agus Purnomo PTSPT-BPPT
  • Agung Barokah Waseso PTSPT-BPPT
  • Mira Marindaa

DOI:

https://doi.org/10.29122/mipi.v12i2.3107

Abstract

Jembatan merupakan bagian dari prasarana transportasi yang berfungsi sebagai  penghubung jalan yang terputus oleh rintangan (sungai, danau, laut,  lembah,  prasarana transportasi lainnya)  yang melintas tidak sebidang seperti jalan, jalur rel kereta api.  Jika diklasifikasikan secara fungsinya jembatan dapat dibedakan menjadi jembatan jalan raya dan jembatan kereta api. Pada paper ini, akan diperlihatkan apakah penggunaan ukuran bentang jembatan 41.15  meter akan lebih optimum (efektif dan efisien) menggunakan gelagar I dengan tinggi 200 cm atau box girder tinggi 200 cm dan beban-beban yang digunakan pada jembatan jalan raya tersebut yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok beban, yaitu berat sendiri gelagar/girder, beban mati tambahan, dan beban hidup. Beban mati tambahan yang dianalisis yaitu beban pelat beton, aspal, dan diafragma sedangkan untuk beban hidup dengan fungsi jalan raya adalah beban D yang terdiri dari beban terdistribusi (load distribution) dan beban Knife Edge Load (KEL) berdasarkan "Pembebanan Untuk Jembatan SNI 1725-2016.

Dari hasil perhitungan antara modul jembatan gelagar I dan box girder baja ukuran bentang 41.15 m untuk jembatan jalan raya dengan tinggi gelagar 200 cm diperoleh kesimpulan bahwa untuk tinggi gelagar 200 cm pada jembatan jalan raya lebih efektif mengunakan tipe gelagar box  baja berbasis material SNI yang cukup mampu menahan beban lalu-lintas jalan raya sesuai standar.

Pada studi kasus rencana perlintasan di Jl. KH.  Mansyur Pekalongan untuk memperoleh estetika yang memadai, maka modul jembatan  gelagar box  akan lebih menjanjikan dari aspek estetika dan arsitektoris dengan konfigurasi bentang yang bervariasi dari 30 m s/d 100 m dengan trase jembatan bisa lurus atau lengkung..

Berdasarkan hasil penelitian tentang analisa perhitungan pembebanan untuk jembatan ukuran bentang 41.15 m yang menggunakan SNI 1725 2016 (standar baru), diketahui terjadi perbedaan beban angin dan beban gempa sebesar  ( 30-40) % terhadap RSNI T-02 2005.

References

Badan Standardisasi Nasional. (2004). Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan, SNI T-12-2004.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Badan Standardisasi Nasional. (2005). Perencanaan Pembebanan untuk Jembatan, SNI T- 02-2005.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Badan Standarisasi Nasional. (2004). Pelaksaan Pekerjaan Beton untuk Jembatan dan Jalan Pedoman T-07-2005. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan Raya.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor :19/PRT/M/2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan.

Standar Pembebanan SNI 1725-2016. Badan Standar Nasional, SNI 1725 2016: Standar Pembebanan Untuk Jembatan. Jakarta, 2016.

Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan, Nomor : 031/T/BM/1999 dan SK. Nomor : 76/KPTS/Db/1999.

Perencanaan Teknik Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta, 2010

Downloads

Published

2018-10-19