http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/issue/feed Material Komponen dan Konstruksi 2019-01-09T13:40:36+00:00 Prof. Dr. Ir. Djoko Wahyu Karmiadji, MSME, APU. djoko.wahyu@bppt.go.id Open Journal Systems Jurnal Material Komponen dan Konstruksi http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/article/view/3285 ANALISIS KERUSAKAN GERBONG DATAR “PPCW”42 TON AKIBAT BEBAN OPERASI 2019-01-09T12:15:16+00:00 Anwar . anwar@bppt.go.id M. Gozali muchamad.gozali@bppt.go.id <div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Several units of PPCW wagons capacity of 42 ton are used for the cement transportation, cracked on the under frame structures. To determine the cause of the cracks, the investigation was conducted by measuring the stress that occurs when the wagons operation.</span></p><p><span>Results of the investigations are the mean stresses and amplitude stresses measured in real-time in the various road conditions, and then be analyzed using fatigue limit diagram approach to get fatigue strength of the wagon structure. The analysis result shows that the stresses at several points of the wagon structure under the operational loads are in the critical area or is above the fatigue limit diagram. This is the cause of the failure of the under frame of the PPCW wagon structure.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Abstrak</span></p><p><span>Beberapa unit gerbong PPCW kapasitas 42 ton yang digunakan untuk pengangkutan semen, mengalami retak pada bagian rangka bawah. Untuk menegetahui penyebab terjadinya retak tersebut, dilakukan penelitian dengan cara mengukur tegangan yang terjadi pada saat gerbong beroperasi.</span></p><p><span>Hasil penelitian berupa besaran tegangan rata-rata dan tegangan amplitudo yang diukur secara real-time pada berbagai kondisi jalan, dianalisis dengan menggunakan pendekatan diagram batas lelah. Hasil analisis menunjukkan bahwa tegangan pada beberapa titik berada pada daerah kritis atau diagram garis batas lelah. Hal ini merupakan penyebab terjadinya kerusakan struktur rangka bawah gerbong PPCW.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><strong>Keywords </strong><span>: PPCW wagon, stresses, fatigue limit diagram.</span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p><p><span><br /></span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div> 2016-06-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2019 Material Komponen dan Konstruksi http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/article/view/3286 PENGARUH PENINGKATAN DERAJAT DEFORMASI CANAI HANGAT TERHADAP KARAKTERISTIK DEFORMATION BAND PADUAN Cu-Zn 70/30 2019-01-09T12:23:05+00:00 Eka Febriyanti eka.febriyanti@bppt.go.id Dedi Priadi dedi@metal.ui.ac.id Rini Riastuti rini.riastuti@yahoo.com <div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Cu-Zn 70/30 alloy </span><span>has properties that is relatively soft, ductile, and easy to perform by cold working. However, cold working has the disadvantage that require equipment which has higher loading capacity to generate strength and higher density thus increasing of machining cost. In addition, strain hardening phenomenon due to cold working process resulted in decreasing of ductility material. Therefore, it is necessary alternative fabrication processes to optimize the mechanical properties of Cu-Zn alloy 70/30 that with the TMCP method. TMCP is metal forming material by providing large and controlled plastic strain to the material. TMCP using the deformation percentage variation that 32.25%, 35.48%, and 38.7% from hot rolled research at 500°C temperature in double pass reversible which performed on Cu-Zn 70/30 plate. By tensile testing using universal testing machine can be seen that the Cu-Zn 70/30 alloy on 32.25% degree of deformation, both of UTS and YS respectively are 505 MPa and 460 MPa. Whereas from examination of thickness and density deformation bands by FE-SEM shows denser and thicker deformation band proportional with increasing of deformation degree.Moreover, the values of tensile strength at the edge of the area and the center is directly proportional to the density and thickness of the deformation band.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Abstrak</span></p><p><span>Paduan Cu-Zn 70/30 memiliki sifat yang relatif lunak, ulet, dan mudah dilakukan pengerjaan dingin. Namun, pengerjaan dingin memiliki kekurangan yaitu membutuhkan peralatan yang memiliki kapasitas pembebanan tinggi untuk menghasilkan kekuatan dan kepadatan tinggi sehingga meningkatkan biaya permesinan. Selain itu, fenomena pengerasan regang akibat proses pengerjaan dingin menghasilkan penurunan keuletan material. Oleh karena itu, diperlukan alternatif proses fabrikasi untuk mengoptimalkan sifat mekanik paduan Cu-Zn 70/30 salah satunya dengan metode TMCP. TMCP merupakan suatu proses perubahan bentuk suatu material dengan cara memberikan regangan plastis yang besar dan terkontrol terhadap material. TMCP dengan menggunakan variasi persentase deformasi sebanyak 32,25%, 35,48%, dan 38,70% dari penelitian canai hangat di suhu 500</span><span>o</span><span>C secara double pass reversible dilakukan pada pelat paduan Cu-Zn 70/30. Dengan melakukan pengujian tarik menggunakan mesin uji tarik universal testing machine dapat dilihat bahwa pada material paduan Cu-Zn 70/30 pada derajat deformasi 32,25% menghasilkan nilai UTS dan YS masing-masing sebesar 505 MPa dan 460 MPa. Sedangkan dari hasil pengamatan ketebalan dan kerapatan deformation band menggunakan FE-SEM menunjukkan deformation band yang lebih rapat dan lebih tebal sebanding dengan semakin meningkatnya derajat deformasi. Selain itu, nilai kekuatan tarik pada daerah tepi dan tengah berbanding lurus dengan kerapatan dan ketebalan deformation band.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span><strong>Keywords</strong>: </span><span>70/30 Cu-Zn alloy, warm rolled, deformation degree, deformation bands</span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p><p><span><br /></span></p></div></div></div> 2016-06-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2019 Material Komponen dan Konstruksi http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/article/view/3287 PENIPISAN PIPA KETEL AKIBAT ELEMEN KOROSIF AIR 2019-01-09T12:54:08+00:00 M. N. Setia Nusa naswir.setia@bppt.go.id Hernadi . hernadiap@yahoo.com <div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Inspection and testing is done to determine the metallurgical phenomena that occur on the boiler pipes that have been operating several years continuously at a temperature of 560 ° C. The study is also intended to determine the operational feasibility of the pipeline and to avoid undetected damage.</span></p><p><span>Investigation of these pipes is also carried out in the laboratory with micro-structure analysis method, inspection crust, tensile test, bending test, hardness and thickness test.</span></p><p><span>From the analysis of the microstructure, boiler pipes are in condition ferrite pearlite spheroidization with a crust that is thick and contains graphite. In addition, The pipes are attacked by uniform and pitting corrosion. The results of tensile and bending tests are still normal (standard). The hardness test results show significant values compared to the standard, as well as the thickness of the pipe thinning as a result of the corrosion process.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Abstrak</span></p><p><span>Inspeksi dan pengujian dilakukan untuk mengetahui fenomena metalurgis yang terjadi terhadap pipa ketel uap yang sudah beroperasi beberapa tahun secara terus menerus pada suhu 560°C. Penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan operasional pipa tersebut dan untuk menghindari terjadinya kerusakan yang tidak terdeteksi</span></p><p><span>Investigasi pipa-pipa tersebut juga dilakukan di laboratorium dengan metode analisa struktur mikro, pemeriksaan kerak, uji tarik, uji bending, uji kekerasan dan ketebalan.</span></p><p><span>Dari analisa struktur mikro, pipa ketel berada pada kondisi ferrit spheroidisasi perlit dengan lapisan kerak yang cukup tebal serta mengandung grafit. Selain itu juga terjadi serangan korosi merata dan korosi sumuran. Hasil uji tarik dan hasil uji bengkok masih normal (memenuhi standar). Hasil uji kekerasan terjadi penurunan nilai yang signifikan dibanding standar, demikian juga pada ketebalan pipa terjadi penipisan akibat dari adanya proses korosi.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span><strong>Keywords</strong>: </span><span>Boiler pipe, spheroidization, corrosion, thinning.</span></p></div></div></div></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div> 2016-06-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2019 Material Komponen dan Konstruksi http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/article/view/3288 PENGARUH PERSENTASE REDUKSI WARM ROLLING TERHADAP SIFAT MEKANIK PADUAN Cu-Zn 70/30 2019-01-09T13:02:08+00:00 Ayu Rizeki Ridhowati ayu.rizeki@ui.ac.id Eka Febriyanti eka.febriyanti@bppt.go.id Rini Riastuti rini.riastuti@yahoo.com <div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Warm rolling is one of the thermomechanical method has several advantages such as produces high mechanical properties, but does not decrease % elongation and toughness value because partial recrystallization phenomenon that produces micron-sized new grain. This paper reports the results of an investigation carried out on the effects of holding time annealing to mechanical properties Cu-Zn 70/30 alloy. These alloy after homogenization process and quenched in the air then heated to temperature of 300°C, later the heated copper samples are warm rolled at 25%, 30%, and 35% reduction, after that heated at temperature 300°C and held during 120 minutes. Then sample is experienced rewarm rolling with reduction 25%, 30%, and 35%. The results obtained showed that the ultimate tensile strength and yield strength are higher proportional with the increasing of % reduction, their values are 501,1 MPa; 599,3 MPa; later decrease to 546, 5 MPa and to yield strength are 441,8 MPa; 466,1 MPa; then decrease to 458,6 MPa. Moreover hardness value increase proportional with % reduction such as 154 HV; 162 HV; after that decrease to 160 HV While, % elongation decreases inversely proportional with % reduction namely 12,4%; 8,2%; later increase to 11,2 %. It is caused of the partial recrystallization phenomenon as evidenced by the presence micron-sized.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Abstrak</span></p><p><span>Warm rolling merupakan salah satu metode termomekanik yang mempunyai beberapa keuntungan yaitu salah satunya menghasilkan sifat mekanik yang tinggi, namun tidak mengurunkan nilai keuletan karena adanya fenomena rekristalisasi parsial yang menghasilkan butiran baru berbentuk micron. Paper ini menjelaskan tentang hasil penelitian berupa pengaruh persentase reduksi terhadap sifat mekanis paduan Cu-Zn 70/30. Paduan Cu-Zn 70/30 setelah dilakukan proses homogenisasi dan didinginkan di udara lalu dipanaskan ke suhu 300°C, kemudian masing-masing dilakukan warm rolling dengan persentase reduksi sebesar 25%, 30%, dan 35% kemudian ditahan di suhu 300°C dalam waktu 120 menit. Selanjutnya sampel dilakukan rewarm rolling dengan persentase reduksi sebesar 25%, 30%, dan 35%. Hasil penelitian yang dilakukan antara lain nilai kekuatan tarik (UTS dan YS) yang semakin tinggi sebanding dengan peningkatan % reduksi warm rolling yaitu masing-masing untuk nilai UTS sebesar 501,1 MPa; 599,3 MPa; lalu menurun menjadi 546,5 MPa serta untuk nilai kekuatan luluh sebesar 441,8 MPa; 466,1 MPa; lalu menurun menjadi 458,6 MPa. Selain itu, nilai kekerasan meningkat sebanding dengan peningkatan % reduksi warm rolling masing-masing sebesar 154 HV; 162 HV; lalu menurun menjadi 160 HV. Sedangkan persentase elongasi semakin menurun berbanding terbalik dengan peningkatan % reduksi masing-masing sebesar 12,4%; 8,2%; lalu meningkat menjadi 11,2%. Hal tersebut disebabkan karena adanya fenomena rekristalisasi parsial yang dibuktikan dengan kehadiran butir kecil berukuran mikron.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Keywords : </span><span>Cu-Zn 70/30 alloy, warm rolling, anneal, % reduction, mechanical properties</span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div> 2016-06-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2019 Material Komponen dan Konstruksi http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/MKK/article/view/3289 PENGARUH PERUBAHAN MIKROSTRUKTUR TERHADAP PERUBAHAN KEKERASAN RADIANT TUBE YANG TELAH BEROPERASI SEJAK 2003 2019-01-09T13:40:36+00:00 Laili Novita Sari laili.novita@gmail.com Sutarjo . sutarjo785@bppt.go.id <div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>B2TKS - Sub- Analysis of Damage and residual life has done Remaining Life Assessment to the radiant tube on oil and gas companies from 2003 - 2016. In determining the RLA, it was used graph of the Era Technology where the determination is based on the microstructural changes while there are no literature or research which shows the hardness changing of material ASTM A 213 T5 which occurs during the aging process. Therefore it need to make formulation about the changes of spheriodizationto the chages of hardness of radiant tube material ASTM A 213 T5. By knowing a reasonable decrease in hardness to spheriodization, it was expected to detect the abnormal condition or damage earlier. Based on the examination of metallographic and hardness testing ,is was known that the reduction of hardness occur in proportion to the increase ofsperiodization percentage. In spheriodzation changing of Classification A, B, C the decrease of hardness below 0.7 HB / HB0 while classification D until the next classification,reduction of hardness above 0,7HB / HB0.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><span>Abstrak</span></p><p><span>B2TKS </span><span>– </span><span>Sub Bidang Analisa Kerusakan dan umur sisa telah melakukan Remaining Life Assesment pada radiant tube pada perusahaan minyak dan gas bumi dari tahun 2003 </span><span>– </span><span>2016. Dalam penentuan RLAdigunakan grafik dari Era Teknologi dimana penentuannya berdasarkan perubahan struktur mikro sedangkan untuk perubahan kekerasan material belum ada literatur atau penelitianyang menunjukkan tentang perubahan kekerasan pada material ASTM A 213 T5yang terjadi selama proses penuaan. Karena itu dilakukan perumusanperubahan kekerasan terhadap speriodisasi pada tube radiant material ASTM A 213 T5. Dengan mengetahui penurunan kekerasan yang wajar terhadap speriodisasi diharapkan akan mempermudah pendeteksian awal kondisi abnornal atau kerusakan. Berdasarkan pengamatan metalografi dan uji kekerasan diketahui bahwa penurunan kekerasan terjadi secara proporsional dengan peningkatan prosentase spriodisasi. Klasifikasi A, B, C penurunan kekerasan dibawah 0,7 HB/HB0 sedangkan klasifikasi D sampai berikutnya penurunan kekerasan diatas 0,7HB/HB0.</span></p><div class="page" title="Page 1"><div class="layoutArea"><div class="column"><p><strong>Keywords</strong>:<span> hardness, radiant tube, in situ metallography, ASTM A 213 T5</span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div><p><span><br /></span></p></div></div></div> 2016-06-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2019 Material Komponen dan Konstruksi