CITARUM RIVER FLOOD MANAGEMENT REVIEW FROM THE ASPECT OF SPATIAL PLANNING AND ENVIRONMENNTAL CARRYING CAPACITY (CASE STUDY OF THE DAYEUHKOLOT AREA)

Main Article Content

Teddy Wartono Sudinda

Abstract

Penambahan ruang di lahan-lahan terbuka hingga ke daerah pinggiran kota mengakibatkan bertambah luasnya lahan (dengan fungsi perkotaan) terbangun (urban built-up land). Dengan semakin tingginya tingkat pembangunan di kawasan tersebut yang tanpa terkendali (unplan) dikemudian hari akan menimbulkan dampak negatif yang dirasakan yang ditandai dengan penuruan kualitas lingkungan itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Dayeuhkolot (termasuk hulu sungai Citarum) merupakan daerah rawan banjir dan genangan dimana beberapa desanya termasuk daerah yang sering dilanda banjir. Berdasarkan telaahan maka terdapat akar pemasalahan yang menyebabkan wilayah hulu  sungai Citarum setiap tahun mengalami banjir dan genangan yaitu perkembangan penggunaan lahan terbangun (built up area) selama kurun waktu 1993-2013 tahun telah mencapai 78,95% dari luas wilayah Kecamatan Dayeuhkolot 1.078,60 ha dibanding lahan non terbangun yang menyisakan luas sebesar 21,05% dari 1.078,60 ha, angka daya dukung lahan wilayah Kecamatan Dayeuh Kolot menunjukan 0,0098 sudah berada diluar ambang batas  konsumsi lahan populasi antara 100.000-250.000 jiwa dan hasil analisis dari Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kecamatan Dayeuh Kolot untuk kawasan budidaya non pertanian (kawasan terbangun) mencapai 85% dan sisanya 15% untuk kawasan budidaya pertanian.

Article Details

Section
Articles