Main Article Content

Edi Santoso


A new improved flux – profile relationship for winds in convective conditions is
constructed from convective transport theory and radix layer theory. Data from the
Minnesota field experiment are used to recalibrate the new parameterization and
similarity equation, and data from BLX96 are used to determine whether radix layer
wind profile depends on surface conditions such as roughness. The results are
compared against independent data collected during the Koorin field campaign. The
flux-profile relationship for wind speed is dependent on a wide-range of scales of
terrain roughness. First the ML transport coefficient for momentum flux C* D depends
on small-scale roughness elements as affect the aerodynamic roughness length zo .
Second, shape parameter D M depends on resolvable-scale topographic variations as
affect the standard deviation of terrain elevation σz . Such dependence over the wide
range of scales should be expected because the radix layer profile equations were
designed and calibrated as the average over a heterogeneous region, rather than
being for one column over a single land use.

Sebuah persamaan baru keterkaitan antara fluks dan profil untuk angin pada kondisi
konvektif dibangun dari teori transpor konvektif dan teori lapisan radix. Data dari
eksperimen lapangan di Minnesota digunakan untuk kalibrasi ulang. Data eksperimen
lapangan BLX96 digunakan untuk menguji kebergantungan profil angin pada kondisi
permukaan. Data ekperimen lapangan di Koorin digunakan untuk pembanding.
Persamaan keterkaitan antara fluks dan profil untuk angin bergantung pada berbagai
skala kekasaran permukaan. Pertama, koefisien transpor untuk fluks momentum
bergantung pada elemen kekasaran permukaan skala kecil. Kedua, parameter bentuk
profil bergantung pada variasi berskala topografi. Kebergantung pada berbagai skala
seperti ini adalah konsekuensi logis dari persamaan profil di lapisan radix yang
didesain dan dikalibrasi menggunakan eksperimental data yang mengakomodasi
pengaruh berbagai skala.

Article Details